February 4, 2008

Perempuan Dalam Nias

Peran perempuan merupakan salah satu kunci keberlangsungan tatanan hidup masyarakat di pulau ini. Perempuan di Nias memegang peran yang tidak kecil dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini peran perempuan di Nias tidak begitu diperhatikan. Mereka mempunyai keunikan layaknya perempuan lain di Indonesia. Sebagian besar perempuan di pulau ini mempunyai peran yang cukup penting.

Apabila kita berkunjung ke daerah pedesaaan. Disitu perempuan harus bekerja di ladang untuk mengolah lahan. Dan hasil ladang mereka biasanya mereka jual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Padahal di sisi lain suaminya hanya tinggal di rumah mengurus anak-anak. Sementara di kehidupan lain sering dijumpai kasus pernikahan pada masa usia dini. Yang kadang memaksa sang gadis untuk menempuh kehidupan baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkannya. Ada beberapa hal yang bisa menjadi latar belakang penerimaan terhadap kaum perempuan di Nias.


Kebudayaan mempengaruhi perlakuan terhadap perempuan. Adat yang berlaku pun juga membawa dampak terhadap kaum perempuan. Dengan mengambil generalisasi akan suatu kebudayaan terutama pada daerah dengan perang sebagai sejarah panjangnya.

Nias merupakan salah satunya. Adanya tari perang dan peninggalan-peninggalan peralatan perang dari masa lalu membuktikan daerah ini mempunyai ciri khas tersebut. Kekuatan fisik akan lebih dihargai di daerah seperti ini. Karena bagaimanapun juga pada saat perang hukum rimba akan tetap berlaku, siapa kuat dialah yang menang. Hal ini menyebabkan peran perempuan terpinggirkan karena mereka dianggap lemah. Dalam kebuadayaan itu peran perempuan hanya untuk mengurusi hal-hal berurusan dengan rumah tangga. Seperti kebanyakan perempuan di daerah lain. Budaya patrilineal menyebabkan ruang gerak perempuan sempit.

Rendahnya tingkat pendidikan di pulau ini juga menyebabkan pengetahuan mereka akan peran kaum perempuan minim. Masyarakat yang hidup jauh dari akses informasi menganggap perempuan tidak layak untuk berperan lebih jauh terutama dalam hal-hal yang bersifat struktural. Suara laki-laki terutama pemimpin lebih diperhitungkan di daerah ini. Tenaga perempuan lebih dioptimalkan dalam urusan rumah tangga.

Selain itu rendahnya pendidikan juga menyebabkan kurangnya pengetahuan dari pihak perempuan. Mereka tidak mengerti bahwa mereka berhak untuk sejajar dengan laki-laki.

Potensi perempuan di sini sangat besar. Di dalam sebuah pertemuan/diskusi justru mereka lebih aktif. Seringkali mereka memberi kritik dan saran ataupun pertanyaan dalam sebuah pertemuan atau diskusi. Usul mereka tidak jarang sangat kritis. Namun sekali lagi suara pemimpin lebih berpengaruh.

Tenaga mereka juga sangat terampil dalam mengolah lahan seperti contoh sebelumnya. Semangat mereka dalam melakukan pekerjaan perlu diperhatikan. Di dalam semangat itu tentunya ada motivasi untuk mempertahankan bahkan meningkatkan taraf hidup.

Di daerah perkotaan arus informasi dan sarana pendidikan sudah lebih baik, contohnya Gunung Sitoli. Di daerah ini kesadaran kaum perempuan lebih tinggi. Banyak dari mereka mengenyam pendidikan serta berkecimpung di berbagai bidang. Mereka banyak tersebar di berbagai bidang pekerjaan. Kecenderungan untuk dapat berperan seperti laki-laki sudah timbul. Hingga suatu saat seiring pembangunan, perempan di Nias menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan di daerah ini. (wya)

Tiarap Idealisme

Dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang sebelumnya diawali proses emergency di daerah bencana khususnya Nias, banyak masalah yang timbul akibat tabrakan nilai-nilai yang sudah tertanam di dalam masyarakat lokal dan nilai-nilai yang diusung oleh para pekerja kemanusiaan dalam misinya. Permasalahan yang dihadapi oleh pekerja kemanusiaan itu pun sangat komplek dan semuanya selalu berujung pada ketidak sinkron-an nilai-nilai yang berbenturan. Untuk menghindari permasalahan tersebut diperlukan suatu strategi yang ideal di wilayah ini. Dimana kita sadar bahwa idealisme yang kita yakini tidak selamanya bisa diterima dalam lingkup komunitas lokal.


Bekerja dalam suatu lembaga kemanusiaan membutuhkan naluri yang membawa kita untuk menyesuaikan diri terhadap dinamika di dalam masyarakat. Bukan hanya itu saja, terkadang kita dituntut untuk dapat menganalisa dinamika yang berkembang dalam masyarakat. Pekerjaan yang tidak mudah terutama apabila kita baru mengenal tempat layanan kita seumur jagung saja. Diperlukan keterbukaan serta pendampingan dalam masyarakat yang cukup intens agar kita mampu mengenal dan memahami karakter lokal.

Kita tidak dapat mengusung idealisme kita begitu saja dalam bekerja dengan masyarakat lokal. Diperlukan rasa rendah diri serta lapang dada bagi kita dalam melaksanakan program terutama yang berhubungan dengan peningkatan kapasitas lokal. Sebagai contoh dalam organisasi, yaitu ketika kita menuntut akan keadaan yang lebih dinamis baik dalam hal teknis maupun strategis, kita tidak bisa begitu saja mencapai hal tersebut apabila kita tidak memperhatikan secara komprehensif karakter serta kapasitas lokal. Keadaan akan berkembang sesuai apa yang telah digariskan apabila individu-individu pelaku mau membuka diri serta merendahkan hati sehingga semua akan sama sejajar dalam kerja tim tersebut. Keadaan dimana semua mau menerima kekurangan masing-masing serta mau belajar pada pihak lain.

Di lain pihak akan terjadi benturan seperti yang disebutkan diatas apabila individu-individu secara stagnan menutup diri mereka terhadap dinamika yang dikembangkan. Dan saat benturan ini terjadi akumulasi resistensi yang sebelumnya telah ada akan menimbulkan luapan yang nantinya menuju ke arah chaos dimana semua pihak tidak ada yang legawa. Hal inilah yang perlu dihindari dalam keterkaitan kita bekerja di dalam masyarakat.

Pada akhirnya, untuk kemajuan organisasi dalam interaksinya baik secara internal dan eksternal pandangan yang komprehensif penting untuk diterapkan. Pandangan akan kekurangan dan kelebihan masing-masing pihak sehingga sikap untuk saling melengkapi dapat menimbulkan keharmonisan dalam tubuh organisasi. Tidak mudah memang untuk melakukannya dimana idealisme yang disertai dengan ego selalu terlibat di dalamnya. Idealisme perlu lebih sedikit tiarap demi kepentingan bersama.(latrina)

Rumah; Salah Satu Wacana Pembangunan di Nias

Gempa bumi yang menghantam Nias pada akhir Maret tahun lalu menyisakan banyak masalah yang cukup komplek di daerah ini. Sampai saat ini pun tercatat hampir sekitar 200 kepala keluarga masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sebenarnya pemerintah telah menargetkan akhir Maret ini sudah tidak ada lagi penduduk yang tinggal di tenda. Tapi apa daya permasalahan selalu mentok pada masalah legalitas tanah. Hanya yang bisa menunjukkan kelegalan tanah yang dimiliki yang bisa mendapatkan rumah. Oleh karena faktor itu penghuni tenda-tenda itu belum bisa memperoleh tempat tinggal yang layak huni. Keterbatasan akses kesehatan juga menjadi masalah walaupun beberapa lemabaga non-pemerintah telah melakukan pelayanan di titik-titik kamp pengungsian. Minimnya pengetahuan serta kesadaran yang dimiliki penghuni tenda telah mempengaruhi pola kehidupan komunitas tersebut, keadaan yang sangat memprihatinkan apabila kita berkunjung dan melihat secara langsung kondisi di tempat pengungsian. Seperti tidak ada perubahan setelah setahun ini pemerintah bersama LSM nasional maupun asing bekerja untuk membangun Nias ini kembali.

Namun kita harus melihat perkembangan itu secara dialektik. Kita tidak bisa hanya melihatnya dari satu sisi saja. Di lain hal sudah cukup banyak pembangunan dilakukan oleh pemerintah sendiri. Jalan-jalan sudah mulai dipoles kembali walaupun masih dalam lingkup ibukota kabupaten. BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) sendiri telah memulai proyek pembangunan rumah. Sampai saat ini dari 20 lembaga, termasuk BRR, telah menyelesaikan pembangunan sekitar 700 rumah dan 2000 masih dalam tahap pengerjaan. Menurut data yang diperoleh dari BRR, 18.337 rumah akan dibangun di kepulauan Nias ini. Angka itu merupakan jumlah total dari komitmen lembaga non-pemerintahan dan BRR di Nias. Angka ini juga melebihi dari 15.000 jumlah total rumah yang diperlukan oleh penduduk yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa. Proyek rekonstruksi ini rencananya akan diselesaikan sebelum bulan Juni 2007.

Bagaimanapun juga rumah adalah faktor yang paling utama dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Nias ini selepas dari masa darurat. Rumah yang layak huni sebagai pengganti rumah yang hancur akibat gempa. Masalah lain yang timbul adalah pembangunan rumah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang bekerja di Nias terkadang mengabaikan faktor-faktor sosial budaya yang ada di dalam masyarakat, faktor-faktor yang seharusnya tetap dijaga agar eksistensi kearifan lokal tetap berperan dalam pembangunan masyarakat. Mereka kadang hanya sekedar mengejar target pembangunan rumah. Tanpa melibatkan peran struktur sosial yang sebenarnya sangat berpengaruh dalam komunitas masyarakat Nias itu sendiri alhasil akan merubah pola kehidupan yang sudah dibangun oleh masyarakat itu sendiri.

Pembangunan rumah sudah semestinya bukan hanya sekedar memberikan tempat tinggal bagi penduduk setempat tetapi proses pembangunan itu sendiri juga harus dapat menjadi proses pendewasaan dan pembelajaran keorganisasian dalam masyarakat. Tidak semua masyarakat di Nias memiliki kekuatan keorganisasian. Bahkan beberapa komunitas mengetahui pentingnya peng-organisasian akhir-akhir ini. Disinilah sebenarnya peran organisasi non pemerintah dan pemerintah untuk mengembangkan serta memperkuat kapasitas lokal. Lewat pendekatan keorganisasian dalam masyarakat penerima bantuan dan lewat diskusi yang dilakukan dengan masyarakat tersebut, sebagai pelaku pembangunan rumah, kita akan mengetahui nilai-nilai kebudayaan arsitektural dan sosial dalam masyarakat tersebut. Nilai-nilai arsitektural yang di kemudian hari harus diterapkan dalam pembangunan rumah. Dengan melakukan hal ini, organisasi-organisai pelaku telah melakukan penguatan kembali kebudayaan masyarakat setempat. Hal ini sangat penting karena nilai-nilai lokal sangat potensial untuk dikembangkan demi pewarisannya.

Di lain pihak proses ini tidak memakan waktu yang singkat mengingat kebutuhan akan tempat tinggal yang cukup mendesak. Tetapi pemberdayaan kapasitas lokal juga sangat diperlukan menimbang keberadaan organisasi-organisasi dan BRR tidak akan lama di Nias. Dengan semakin menguatnya kapasitas lokal, sepeninggal organisasi-organisasi tersebut diharapkan masyarakat mampu luntuk menjaga kesinambungan program yang telah dilakukan oleh organisasi-organisasi di Nias. Bagaimanapun juga pembangunan tempat tinggal bagi masyarakat yang membutuhkan tidak mudah dalam pelaksanaannya mengingat tidak semua masyarat memiliki tanah. Tetapi kita juga tidak boleh mengesampingkan peran pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat menemukan solusi yang tepat bagi penyediaan tempat tinggal untuk masyarakt yang masih tinggal di tenda tentunya dengan menghiraukan nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat. Siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan kita? -wya-